Pendidikan Lingkungan, Penting!
Arti Penting Pendidikan Lingkungan
Disadari bahwa peranan manusia begitu besar dalam menentukan kondisi dan kualitas lingkungan. Apabila peran aktif manusia nyatanya tidak peduli terhadap kelestarian mutu dan fungsi lingkungan, maka akan rusaklah lingkungan hidup dan demikian sebaliknya. Bencana banjir dan longsor atau juga kerusakan dan kebakaran hutan yang tak-terkendali dari tahun ke tahun adalah contoh akibat dari peran manusia pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Istilah peduli lingkungan disini mengisyaratkan kondisi mental individu manusia yang terbentuk dari pengalaman pahitnya atau dari suatu proses pendidikan yang dilaluinya.
Apabila di banyak wilayah seputar Indonesia termasuk Sumatera Selatan tercatat banyak bencana lingkungan khususnya insiden kebakaran hutan dari tahun ke tahun (Iam Kompas 2006), maka hal itu mengindikasikan adanya kondisi sosial yang masih memerlukan injeksi pendidikan lingkungan yang bersifat formal maupun pendidikan informal (kursus-kursus dan pelatihan) dan pendidikan non formal maupun pendidikan (penyuluhan dan kegiatan studi banding). Pendidikan lingkungan melalui jalur formal tentu erat kaitannya dengan aspek kurikulum yang secara khusus perlu dilengkapi dengan paket ‘kurikulum hijau’ dan perlu diajarkan sejak dari tingkat pendidikan terendah (Sekolah Dasar) hingga ke taraf perguruan tinggi.
Sjarkowi (2005) menyatakan bahwa untuk membangun kadar pemahaman yang seimbang tentang peran aktif manusia pembangunan di tengah lingkungan hidupnya, maka di seluruh penjuru nusantara memang perlu diselenggarakan program penghijauan kurikula (Greening The Curiculae) seperti digagas Collet, J & S dan Karakhasian (1996). Dengan pola dan bobot pendidikan yang berwawasan lingkungan itu maka kadar kesepahaman antar sesama manusia pembangunan dan bobot kerjasama pro-aktif, dan reaktif mereka terhadap bencana dan kerugian lingkungan pun akan dapat ditumbuhkan dengan cepat secara internal daerah atau bahkan kebangsaan maupun selingkup Internasional.
Di Indonesia upaya penghijauan kurikulum yang amat mendasar dan sangat penting itu sudah pernah didengungkan dan di awal tahun 1990-an khususnya ketika berlangsung Konferensi Nasional PSL ke 10 di Palembang pada tahun 1992. Salah satu butir himbauan yang tersimpul dalam konferensi itu menekankan arti penting penghijauan kurikulum baik secara substansial maupun secara parsial. Cara substansial menghendaki agar dalam setiap substansi mata-ajaran diberi wawasan dan bobot lingkungan. Cara parsial adalah bersifat penyisipan mata kuliah atau mata-ajaran ekologis pada setiap paket kurikulum yang diberikan kepada peserta didik. Cara substansial tentu makan biaya dan waktu lama, sedangkan cara parsial bisa lebih cepat dan murah, tapi bisa kehilangan konteks saling menguatkan terhadap mata-ajaran lainnya. Terutama bilamana cara parsial itu tidak disertai dengan banyak penataran lingkungan bagi para guru yang belum atau tidak paham bagaimana menghijaukan materi pelajaran (non Lingkungan) yang diajarkannya (Sjarkowi,2005).
Upaya penghijauan kurikulum yang kemudian patut disebut dengan program Pendidikan Lingkungan, adalah sebuah usaha untuk mengarahkan kembali tujuan pendidikan sehingga kompetensi dan pemahaman tentang pendidikan lingkungan dimunculkan kembali sebagai salah satu tujuan dasarnya di samping kompetensi personal dan kompetensi sosial. Materi pendidikan lingkungan seyogyanya tidak hanya sebagai satu pokok bahasan dalam pendidikan (cara parsial), melainkan penghijauan kurikulum itu akan lebih tepat dengan cara substansial yang mengedepankan pengembangan seluruh filosofi kurikulum sehingga dimensi lingkungan tercakup menjadi satu kesatuan. Cara demikian tentu lebih besar manfaatnya karena lingkungan membutuhkan perhatian dan pengertian yang sama besar dengan perhatian yang kita berikan untuk kesejahteraan personal social (Smyth, 1995) .
Hutan beserta dengan isinya sebagai himpunan aneka sumberdaya alami merupakan komponen penting dalam lingkungan hidup ( yang menurut Sjarkowi, 2004) terdiri dari lingkungan alami, lingkungan sosial, dan lingkungan binaan). Sumberdaya alami sebagai unsur lingkungan alami dan harus dijaga kelestarian mutu dan fungsinya, secara teoritis memiliki empat dimensi yaitu :
a) Dimensi mutu (Kualitas) dengan memperhatikan beberapa fungsi ciri atribut dan peran yang melekat pada sumberdaya tersebut, maka dapat dibedakan mana diantaran sejumlah sumberdaya sejenis yang lebih bermutu dan apa penyebab turun naiknya mutu tersebut.
b) Dimensi jumlah ( kuantitas) suatu sumberdaya selalu dapat dinyatakan jumlahnya menurut satuan ukur tertentu.
c) Dimensi waktu, mengacu kepada lambat atau cepatnya ketersediaan sumberdaya akan ludes atau dapat dipulihkan kembali. Dimensi ini tergantung kepada keadaan teknologi yang ada dan yang memberikan makna manfaat serta makna jumlah bagi suau sumberdaya yang dimanfaatkan.
d) Dimensi ruang merupakan penunjuk tempat kedudukan sumberdaya disebut sumberdaya in-situ, sehingga perlu disebarkan ke tempat dimana benda itu dirasakan lebih langka adanya ( sumberdaya eks-situ)
Suatu bencana lingkungan hidup seperti bencana kebakaran hutan tentu dapat merusak keempat dimensi sumberdaya alami itu. Sekali dimensi kelestarian sumberdaya itu mengalami kerusakan tentunya akan sulit dipulihkan, apalagi bila kebakaran hutan itu terjadi berulang-unlang. Maka dapat dimengerti betapa pentingnya merealisasikan program pendidikan lingkungan yang telah dikemukakan tadi, dan dengan demikian menjadi mudah pula untuk dimengerti jika dinyatakan bahwa tujuan pendidikan lingkungan itu secara umum adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan kesadaran dan perhatian terhadap keterkaitan di bidang ekonomi, sosial, politik terhadap ekologi, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan.
b. Memberi kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan, sikap/perilaku, motivasi dan komitmen, yang diperlukan untuk bekerja secara individu dan kolektif untuk menyelesaikan masalah lingkungan saat ini dan mencegah munculnya masalah baru.
c. Menciptakan satu kesatuan pola tingkah laku baru bagi individu, kelompok-kelompok dan masyarakat terhadap lingkungan hidup.




imat said:
Tulisan yang bagus, sayangnya blom tahu tulisan ini untuk segmen masyarakat yang mana, apakah utk kalangan akademisi,peneliti, atau masyarakat umum, jadi mungkin utk masyarakat umum tulisannya dipopuliskan , agar ketika membaca satu paragraf dapat langsung mencerna tulisan yang dimaksud, hehehehe sory hanya koment pribadi loh
marthen welly said:
selamat ya silvie atas websitenya!! dan juga…..:).
komentarku atas website ini :
1. sudah terlihat sistematis dan simple
2. layout masih perlu diperbaiki, banyak paragraph yg masih loncat2 spasinya dan judul ada yg ditengah, ada yg dipinggir, ada yg di bold ada yang enggak dll.
3. akan lebih “kuat” menyampaikan pesan dan lebih cantik kalo ada 1-2 gambar/foto.
itu dulu ya komentarnya….BRAVO!!
MW
dewagumay said:
Sylvie yang baek, koment pertamaku sebaiknya layout atau perwajahan, penggunaan font diperbaiki deh, enggak enak melihatnya, terus kutipan atau saduran dari web tetangga, mengapa tidak dibuat system link saja, usahakan content tulisan dibuat dengan original jadi Blog ini menjadi khas dan informatif karena bisa link ketempat lain, begitu.
sylvie said:
hehehe
itu postingan pertama loch… masih gagap operasiinnya, tapi terimakasih sarannya yach.
rio arie rompas said:
nona silvie yang caem mah gaul…
koment gw,, (karna di paksa melulu ) tampilan warnaya agak dibikin cool dikit, trus perbanyak tag nya biar tambah rame
trus tulisan ama warnanya jangan monoton biar enak ngeliatnya..trus linknya mana ???
Ube said:
aku ga paham ttg web, tapi kalo membaca beberapa artikel kok kayaknya berat ya… (yg bhs inggris) gimana kalo tentuin aja ni web buat siapa, anak-anak, remaja or siapa gitu, jadi lebih enak…
bondy said:
saya salut buat penulis. sekedar nyasar untuk mencari artikel ini itu. tulisan saya nilai kualitas kolom opini di koran kompas. apakah tulisan ada yang sudah pernah ditampilkan di media massa? coba dikirim ya, biar bisa dinikmati lebih banyak orang.. dan aura positifnya bisa lebih nyebar
sekali lagi salut. ps : layout ok. enak dibaca
timpakul said:
pendidikan lingkungan hidup, nggak penting !
Isaac said:
Mba Sylvie keren bgt webnya
cuma ada bbrp bagian yang ga bisa dibaca
tll kecil
tp uda mantap smanagtnya
maju terus mba
Isaac