Do’a Kami untuk mu pahlawan
Kala fajar menyongsong mentari
Bumi Sriwijaya bersenandung riang
Ada tawa, ada celoteh dan ada nyanyian
Nyanyian beruntai doa
Dari Kami, untuk mu pahlawan
Alam menggemakan suara deru angin kemerdekaan
Jiwa kami bergetar mengenang engkau
Angin semilir menghantar puji dan doa
Dari kami, untuk mu pahlawan
Dahulu…
Kau torehkan jejak perjuangan dalam bara semangat merah putih
Darah, keringat berpadu deru debu perjuangan di medan perang
Teriak semangat, pekik amarah pada penjajah
Engkau gemakan setiap detik
Engkau
Dengan ikat kepala dan bambu runcing ditangan
Dengan semangat, rela mati untuk negeri ini
Peluru, belati, menumpahkan darahmu dari dalam tubuh suci mu
Tapi
Kau tetap berlari menghujam bambu runcingmu pada kompeni
Kau tetap menyerukan semangat pada sahabat
Kau terus menyerukan kata “Merdeka atau Mati”
Kau hembus nafas terakhir dengan peluru bersemayam didada
Dan..
Kini 10 Nopember 2006
Kami mengenangmu dalam diam
Haru
Bisu
Jiwa bergetar
Dan
Airmata itu tak mampu terbendung
Lirih hati mengenang sahaja dikau
Haru jiwa dalam renung doa suci
Kelu lidah getar di bibir
Untukmu doa seluruh
Dari kami, untukmu pahlawan
Damailah dalam pangkuan Yang Esa
Damailah dalam peraduan doa susi segenap anak negeri
Damailah dalam peluk hangat ruh ibu pertiwi
Damailah dalam dekap Yang Kuasa
Amien.
[Doa anak Liana untuk para pahlawan. 10. Nopember 2006, dalam renungan suci berbalut doa dan puji suci. Di haturkan pada hamparan permadani pahlawan di kaki Yang Esa di iringi lirih lagu Syukur dan Gugur Bunga. Ditorehkan dalam rimbamaya Liana Indonesia]


