Penokohan Perempuan dalam Cerpen Anak Indonesia
ditulis oleh ::Suzie Handajani
disadur dari kompas di link : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0611/13/swara/3085321.htm
Topik ini terangkat kala penulis menilik sekumpulan cerita pendek anak terbitan 1997-2002 di situs internet milik majalah anak-anak terkemuka terbitan Jakarta yang kemudian diterbitkan pula dalam bentuk buku.
Topik cerpen yang ditampilkan bervariasi, dengan tokoh sentral sebagian besar adalah anak-anak dalam konteks keluarga Indonesia yang tipikal: ada ayah, ibu, dan seorang kakak atau adik: sebuah norma keluarga kecil bahagia sejahtera.
Di tengah ramainya diskusi tentang jender dalam masyarakat, ternyata cerpen anak-anak ini merupakan dunia yang sangat konservatif. Walaupun kenyataannya banyak perempuan Indonesia bekerja di luar rumah dan tidak terburu-buru menikah, semua tokoh perempuan dewasa digambarkan menikah dan mempunyai anak, bukan hanya sebagai ibu, tetapi juga ibu rumah tangga. Tidak ada tokoh perempuan dewasa lajang dan bekerja. Hanya ada dua atau tiga cerita yang menampilkan ibu sebagai perempuan yang memiliki profesi di luar rumah.
Sebagian besar tokoh perempuan selalu ditampilkan sedang memasak, menyapu, atau pekerjaan lain sebagai ibu rumah tangga yang melayani anggota keluarga lain. Mereka tidak digambarkan sebagai individu, tetapi sebagai stereotip. Tokoh suami ibu-ibu ini digambarkan juga sebagai stereotip: pencari nafkah yang dianggap tumpuan hidup keluarga yang memiliki sense of power karena di pundak mereka bergantung kelangsungan hidup anggota keluarga.
Ideologi patriarkhi
Tidak adanya tokoh perempuan lajang yang memilih hidup sendiri secara tidak langsung mengungkapkan ideologi patriarkhi di masyarakat kita yang menyatakan perempuan membutuhkan laki-laki untuk menaikkan statusnya.
Masyarakat kita lebih menaruh stigma pada kata-kata “perawan tua” daripada “bujang lapuk”. Perempuan baru lengkap hidupnya bila menikah, menyandang predikat sebagai istri, dan akhirnya menjadi ibu.
Tokoh perempuan yang hidup tanpa laki-laki biasanya digambarkan sebagai janda. Yang menarik, mereka tidak ada yang bercerai, melainkan ditinggal mati suami. Di tengah derasnya arus infotainment, di mana kata-kata “cerai” sering disebutkan di televisi, kata “cerai” dalam cerita anak-anak ini seolah-olah tabu.
Dalam alur cerita, kata-kata “janda” tak pernah terucap dari mulut tokoh cerpen maupun dalam narasi. Perkenalan selalu dengan mengatakan, “Suami ibu anu telah meninggal” atau “Ayahku telah meninggal dunia”.
Apakah sedemikian aibnya kata “janda” dan menampilkan tokoh janda cerai dalam cerita anak? Mungkin karena cerai sangat tidak dianjurkan, bahkan dilarang dalam agama tertentu? Atau karena tokoh perempuan yang memilih berpisah dari suami akan memberi kesan perempuan bisa dan ada yang memilih hidup tanpa laki-laki?
Yang juga mempertegas kuatnya kesan ideologi patriarkhi adalah pemilihan cerita untuk tokoh janda. Fokus cerita selalu dikaitkan dengan rasa kehilangan tokoh suami (Berbeda dengan cerita tentang duda dalam kumpulan cerita ini yang tidak menangisi kehilangan istri).
Mereka hampir selalu digambarkan hidup sederhana atau miskin dan berjuang karena kesulitan finansial. Misalnya, ada janda yang berjualan bakso atau jadi pembantu di rumah pak lurah. Belum ditemukan tokoh janda yang digambarkan kaya di mana fokus cerita tidak pada kondisi kehilangan suami.
Hal ini menguatkan peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Mencari nafkah adalah tugas mulia, bahkan ibadah, dan dalam cerita anak-anak ini tugas itu tugas ayah. Jika tokoh ibu mampu mencari nafkah karena menggantikan posisi ayah, hal itu bukan membanggakan, tetapi mengenaskan dan patut dikasihani. Padahal, dalam kenyataannya, perempuan bekerja bukanlah sosok yang minta dikasihani.
Mengubah pencitraan
Dunia anak-anak memang harus dilindungi dari citra kekerasan dan kesulitan hidup yang belum saatnya mereka mengerti, tetapi citra yang disajikan tidak perlu mengesampingkan kemandirian dan kemampuan perempuan untuk setara dengan pria.
Justru anak-anak harus diberi pengertian sejak dini bahwa perempuan dan pria sederajat, serta ibu dan ayah mereka memiliki wibawa setara. Dengan demikian, anak yang ibunya bekerja, atau janda ditinggal mati atau yang cerai, tidak perlu merasa berbeda, merasa hidup tidak sesuai dengan “norma” karena kesan dari cerpen yang mereka baca. Mereka bisa menerima keadaan itu adalah kenyataan hidup, bukan anomali dan bukan deviasi.
Cerita anak-anak yang kelihatan innocent sebenarnya memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk pola pikir anak-anak sejak dini. Lihat saja dongeng ibu tiri jahat, seperti di Putri Salju, Cinderella, atau Bawang Merah dan Bawang Putih.
Butuh bertahun-tahun seiring dengan kedewasaan anak untuk mencerna bahwa ibu tiri dalam dongeng bukan transformasi ibu tiri dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga ideologi pangeran yang menyelamatkan putri, secara tak sadar membekas di benak perempuan bahwa mereka pun harus mencari pangeran agar dapat bahagia selama-lamanya.
Ada baiknya cerita anak-anak mewakili berbagai citra jender yang memberdayakan. Semua itu bergantung niat dan kesadaran memasukkan pengarusutamaan jender, bahkan dalam cerita anak-anak sekalipun, agar mereka tumbuh dewasa tidak dengan sikap diskriminatif yang tinggi hanya karena kekurangan variasi dalam tokoh panutan yang mereka dapatkan semasa kecil.
Suzie Handajani Peneliti Representasi Jender, Alumnus The University of Western Australia


