Buku Murah
Pendidikan di Indonesia mahal, demikian anggapan sebagian besar masyarakat Indonesia yang tercermin dari berita media elektronik dan cetak. Berangkat dari keresahan masyarakat itu pula maka berbagai kebijakan pemerintah dikeluarkan untuk menekan jumlah anak putus sekolah akibat pendidikan yang dinilai mahal. Perlengkapan dan keperluan sekolah membuat masyarakat sebagian besar menjerit. Seragam sekolah, buku, sepatu, kaos kaki, hingga transport sekolah membuat para orangtua murid semakin resah. Hal ini memunculkan tanggapan dari beberapa pihak. Tanggapan yang pada akhirnya bermuara pada kebijakan pemerintah. Mulai dari pemangkasan biaya sekolah (SPP dan BP3) yang saat ini digratiskan hingga kepada pemberian seragam bagi siswa yang tidak mampu. Sekarang, setelah biaya pendidikan dasar dibebaskan, maka buku sekolah pun rencananya akan disubsidi oleh pemerintah.
Subsidi yang dimaksud adalah dengan cara membeli hak cipta penulis/pengarang buku untuk kemudian digandakan oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan. Satu sisi ada masyarakat yang terbantu dan teringankan bebannya, namun satu sisi anggapan bahwa ada kecenderungan ketidakberpihakan pemerintah kepada penulis/pengarang buku merebak menjadi sebuah opini ketidakadilan social.
Buku Murah, demikian program subsidi buku ini disebut, ada keceriaan kaum papah disana namun ada kemengkerutan lainnya. Laiknya buah simalakama. Kebijakan pemerintah haruskah selalu mengorbankan sisi baik lainnya?.


