A LivingOS Theme

Bringing together WordPress and SmoothGallery

Shine

LivingOS

Giving you rotating images in the header with links

Churches

Jon Design's SmoothGallery Header Slideshow

And link to anywhere from the image...

Civic Involvement

Beautiful...

Wow!

Action

What's Happening

  • You need the RS Event plugin for this section.
  • Or use the Sidebar Widget plugin to change the content.

Ketika rambutan tiada berbuah dan Padi terserang hama

Feb 20th, 2008 by lianaindonesia | 1

Sebuah desa kecil di Kalimatan Tengah merasakan perubahan iklim yang demikian pahit. Perubahan iklim secara lugu mereka katakan sebagai bergesernya musim panas dan musim hujan memberikan pengaruh yang teramat mendalam bagi hidup mereka. Keseharian mereka yang mayoritas suku dayak yang hidup dari hasil tetumbuhan, padi, karet dan buah-buahan adalah sumber kehidupan.

Tahun ini hujan datang dari bulan oktober hingga februari 2008 belum juga reda. Menoreh karet hanya bisa dilakukan dalam 5 hari saja dengan hasil maksimal 10 kg/hari yang dihargai sekitar 5.600 rupiah saja. Bulan februari seharusnya panen rambutan, cempedak dan buah paken, dan bisa dijual di pinggiran jalan, lumayan sekali musim buah bisa dapat 3 juta rupiah, tapi tahun ini rambutan tiada berbuah baik, ada buahnya tapi untuk makan sendiri, tidak bisa dijual seperti biasa.

Seharusnya, mereka juga tinggal menunggu panen padi yang biasanya datang di bulan maret, tapi tidak banyak yang bertanam padi. Peraturan larang bakar membuat petani enggan menanam padi, alasannya takut di tangkap polisi. Sebagian kecil penduduk masih bertanam padi, tapi harus gigit jari karena hujan membenamkan tanaman padi, beberapa petak kawasan padi rusak dihantam banjir, beberapa petak lagi diserang hama yang menurut para petani hanya datang jika ada banjir. Kondisi ini menjadikan tanaman padi tak lagi dapat dinikmati. Musim panas dan Hujan sekarang sudah bergeser, demikian kata sebagian petani di sana.

One Comment on “Ketika rambutan tiada berbuah dan Padi terserang hama”


  1. Omyosa said:

    MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan sejak tahun 1969 oleh pemerintah saat itu, karena berdasarkan penelitin tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan tersebut. Hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an. Saat itu Indonesia swasembada pangan.
    Petani kita selanjutnya secara fanatis dan turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK dan pengendali hama kimia saja.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita. Mungkin ini walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam teknis budidayanya.
    Petani kita sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan pola tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI SISTEM GABUNGAN POLA SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
    SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
    KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    GUNAKAN PUPUK DAN PENGENDALI HAMA ORGANIK NASA UNTUK TANAM PADI DAN BERBAGAI KOMODITI. HASILNYA TETAP ORGANIK.
    KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
    Omyosa - Jakarta, 08159927152
    Rudy – Kalibata, 021 91719495
    Dedi – Karawang, 085691526137
    Avian – Pamanukan, Subang, 08122156162
    Apud – Limbangan dan Bandrek, Garut, 085216895621
    Hudri – Malangbong, Garut, 081320109152
    papa_260001527@yahoo.co.id

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.