Bumiku = Perjuangan Hidupku
Bumiku demikian pemurah, demikian yang dirasakan oleh seorang ibu penjual hasil bumi di Desa Sade Propinsi Nusa Tenggara Barat. Ia sejenak mengingat kembali apa yang telah ia lewati setiap hari bersama hasil bumi yang memberikan ia kehidupan.
Pagi indah selalu bersenandung tanpa bosan, Ia melangkahkan kaki keluar rumah memetik sayuran, memungut kacang-kacangan, memotong tebu, dan meraih buah-buahan matang dari pepohonan. Ia mengumpulkan sedikit demi sedikit sayur, tebu, kacang dan buah. Keranjang bambu menjadi wadahnya, dan selendang panjang menjadi kain gendong di punggung. Sejenak berlalu, Ia tiba di sebuah balai-balai, tempat biasa Ia menjajakan hasil bumi yang diperolehnya di pinggir jalan menuju pantai Kuta Lombok.
Ia pun berkata, bahwa “ ini adalah bagian dari perjuangan hidup” , bekerja semampunya untuk ikut memperjuang-kan hidup anak dan keluarganya. Bumi terus berputar, semakin tua diremas sang waktu, tiada alasan untuk berpangku tangan, tiada harapan yang terwujud tanpa kerja keras. “Bekerja untuk anakku”, demikian yang ia sebut sebagai bentuk perjuangan, perjuangan yang tidak akan pernah lekang oleh waktu. Andai saja Tuhan tidak memberikan kemurahan lewat bumi yang demikian bersahabat, tentu perjuanganku tidak akan seperti ini, demikian ucapnya sambil tersenyum tipis penuh makna.
Ditulis di Lombok
Selamat Hari Kartini dan Hari Bumi




