A LivingOS Theme

Bringing together WordPress and SmoothGallery

Shine

LivingOS

Giving you rotating images in the header with links

Churches

Jon Design's SmoothGallery Header Slideshow

And link to anywhere from the image...

Civic Involvement

Beautiful...

Wow!

Action

What's Happening

  • You need the RS Event plugin for this section.
  • Or use the Sidebar Widget plugin to change the content.

Jejak Sebuah Perubahan

Jun 19th, 2008 by lianaindonesia | 0

(Menapaki perubahan masyarakat pedesaan)

Sekelompok manusia tinggal dalam sebuah komunitas kecil, kemudian seiring waktu semakin berkembang, terus berkembang. Struktur, kultur pun berubah tak urung sebuah kerangka pemikiran untuk tetap mempertahankan kehidupan bermunculan berpacu dengan waktu tanpa dapat dicegah. Perubahan demi perubahan merenggut kisah masa lampau tanpa bekas. Kembali, waktu mencatat proses tanpa bicara sepatahpun.

Desa, suatu tempat dimana komunitas yang kental dengan kebersahajaan, keterbelakangan, tradisionalisme, subsistensi dan keterisolasian dalam dimensi yang terus berubah. Perubahan yang membawa kondisi komunitas desa menuju dimensi berbeda dahulu, kini dan nanti. Riak riuh perubahan desa dan masyarakatnya merupakan proses yang secara alamiah akan terjadi. Perubahan merupakan suatu proses yang berkesinambungan dalam suatu bentangan waktu tertentu dan berkaitan dengan adopsi teknologi. Perubahan komunitas desa dan masyarakatnya pada umumnya selalu melalui beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah lahirnya gagasan baru, ide baru dan pandangan baru. Ketika gagasan,
ide, pandangan baru tersebut berubah wujud menjadi sebuah cita-cita dan mulai masuk dalam kerangka pemahaman unsur individu dalam masyarakat lainnya maka fase ini dikenal dengan fase kedua dari tahapan perubahan. Tahap ketiga adalah ketika gagasan ide dan cita cita yang sudah tersebar secara masif tersebut melahirkan sebuah inovasi dan ada keputusan untk menerima dan menolak inovasi tersebut. Pada tahap ketiga ada unsur perubahan sosial yang didalamnya terdapat perubahan sikap, pengalaman, persepsi masyarakat dan bahkan refleksi yang terjadi dalam struktur masyarakat.

Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan, material, komposisi penduduk, ideologi, maupun adanya difusi atau penemuan baru dalam masyarakat secara singkat (Gillin and Gillin). Perubahan sosial juga dipengaruhi oleh adanya modifikasi ang terjadi karena adanya sebab-sebab intern dan ekstern (Samuel Koenig). Ada faktor internal yang mempengaruhi perubahan sosial yang didalamnya adalah pertambahan dan penyusutan jumlah penduduk, penemuan baru, konflik. Faktor eksernal meliputi adanya peristiwa-peristiwa fisik berupa bencana alam, peperangan, atau dapat berasal dari adanya pengaruh budaya lain. Selain adanya faktor internal dan eksternal, dalam perubahan sosial juga terdapat faktor pendorong perubahan sosial dan faktor penghambat perubahan sosial. Faktor pendorong perubahan sosial berasal dari adanya kontak dengan budaya lain, sistem pendidikan formal yang lebih maju, sikap menghargai hasil karya seseorang, keinginan untuk maju, toleransi terhadap perbuatan negatif yang bukan merupakan delik, sistem terbuka lapisan masyarakat, penduduk yang heterogen, dll. Adapun faktor-faktor penghambat suatu perubahan adalah kurangnya hubungan dengan masyarakat yang sangat tradisional, adanya kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau vested interest, rasa takut akan terjadinya sikap tertutup terhadap hal-hal baru atau asing, hambatan-hambatan yang bersifat ideologis dan adat atau kebiasaan yang kaku.

Maka ketika suatu komunitas telah mulai melahirkan ide, menyebarkan ide dan gagasan, memutuskan untuk menjalankan ide dan gagasan hingga pada akhirnya memutuskan apakah hasil dari gagasan yang terlahir patut untuk diadopsi atau tidak, inilah yang akan menentukan bagaimanakah sebuah perubahan akan berlanjut. Meski demikian, kondisi lingkungan sosial, alami, dan buatan memiliki andil penting dalam sebuah perubahan. Masyarakat dalam sebuah komunitas dapat dengan mudahnya berubah ketika unsur tiga dimensi sosial tersebut mempengaruhi keberlangsungan hidup mereka secara langsung.

Namun perubahan akan berjalan demikian lambat dan seolah perlu energi yang tak sedikit untuk mendorongnya apabila konsep perubahan datang dari luar komunitas dan tidak memiliki hubungan dimensi sosial secara langsung terhadap kehidupan suatu komunitas.

Desa yang rentan Perubahan

Desa dalam tiap denyut kehidupannya menyita perhatian banyak pihak untuk dibawa pada proses perubahan “yang lebih baik”. Keterisolasian, keterbelakangan desa secara geografis tak jarang memberikan kesan bahwa keterisolasian adalah kemiskinan. Keterisolasian memang akrab dengan kemiskinan hingga sebuah perubahan diakomodir untuk melepas rengkuhan kemiskinan dengan terlebih dahulu meretas keterisolasian. Benarkah keterisolasian masyarakat desa merupakan faktor utama dari kemiskinan yang diderita? (64,41% warga miskin terdapat di pedesaan; BPS 2006) Dari beberapa sumber dan hasil penelitian yang telah dilakukan, keterisolasian mungkin bukan penyebab utama kemiskinan namun keterisoasian selalu ada dalam setiap kasus yang berhubungan dengan kemiskinan masyarakat di pedesaan. Terlepas dari hal tersebut secara teoritis masyarakat di pedesaan jauh lebih rentan berubah dibandingkan masyarakat luar pedesaan. Perubahan yang meliputi perubahan struktural, kultural dan interaksional jauh lebih cepat berjalan prosesnya di kawasan pedesaan. Kita tentu masih sangat ingat dengan sebuah upaya merubah pola pengelolaan sumbedaya alam kepada masyarakat dengan mengadopsi perubahan melalui gerakan revolusi hijau dan revolusi biru. Upaya mengadopsi perubahan dari gagasan dan ide baru bagi masyarakat itu dengan cepat mampu mengubah masyarakat desa yang tradisionalist menjadi masyarakat yang akrab dengan teknologi. Ada kenangan manis dari revolusi tersebut, namun kenangan pahit terus menyeruak ketika perubahan tersebut menciptakan ketergantungan kepada hijau dan birunya gagasan dan ide yang dulu diadopsi. Mengenang masa lalu, mengingatkan kembali bahwa desa memang rentan perubahan. Rentanya perubahan di pedesaan dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat pedesaan itu sendiri yaitu; homogen dalam hal mata pencarian, nilai dalam kebudayaan, sikap dan tingkah laku. Adanya kesamaan persepsi dalam masyarakat desa bahwa kbutuhan ekonomi keluarga adalah tanggungjawab bersama. Pengaruh faktor geografis, dan hubungan antar warga desa yang dekat dan kekeluargaan sehingga adopsi perubahan dapat demikian cepatnya menyebar.

Perubahan menuju masa yang lebih makmur tentu menjadi impian bagi setiap masyarakat pedesaan. Perubahan yang lebih baik tak hanya dalam basis sosial ekonomi namun pula lebih baik dalam menghayati hakekat perubahan itu sendiri, untuk apa dan mengapa harus berubah.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.