Rantai Degradasi Socio-ekologis
(Pil pahit Revolusi Hijau)
Pada Tahun 1965 digalakan upaya peningkatan hasil pertanian padi melalui program yang disebut Revolusi Hijau. Revolusi hijau membawa perubahan pemanfaatan varietas padi. Kala itu varietas padi tradisional harus terpinggirkan dengan varietas baru hasil IRRI ( International Rice Research Institute) yaitu padi varietas IR 8. Varietas padi IR 8 ditanam secara besar-besaran karena umur tanam 120 hari dirasakan lebih baik daripada umur tanam varietas padi tradisional yaitu 150-180 hari.
Tidak hanya varietas padi tradisional yang terpinggirkan tapi akibat mekanisasi pertanian yang disubsidi pemerintah tak urung menggantikan tenaga kerja manusia. Hal ini terlihat dari digantikannya tenaga manusia dalam proses pengolahan hasil panen dan persiapan lahan tergantikan oleh mesin. Faktanya pada saat belum menggunakan mesin, 6-10% penduduk di pedesaan bekerja secara bergotong royong selama setengah hari. Tergantikan tenaga kerja manusia oleh mesin pekerjaan setengah hari itu terludesi dengan 3,5 jam saja. Ini bearti tak ada hari kerja. Dampaknya berpengaruh pada perubahan sosial bergotong royong kepada individualist. Tidak hanya itu saja berubahnya kondisi sosial dalam aspek pengolahan hasil seperti disebutkan itu sesungguhnya mulai mengubah pemikiran gotong royong menjadi individualist dan tergantung pada penggunaan mesin.
Revolusi hijau tak hanya mengubah partikel kehidupan ekosistem sawah dan sosial petani sampai di situ saja. Tapi lebih dari itu terdapat unsur degradasi biodiversitas yang tidak dapat dianggap remeh. Penanaman padi IR 8 secara besar-besaran menyebabkan homogennya varietas, dampaknya terdapat pada resistennya hama penyakit. Penggunaan obat-obatan untuk pengendalian hama jelas menambah biaya produksi dan tentu merembeskan zat kimia berbahaya di kawasan perairan persawahan, ketika air terembesi zat kimiaberbahaya tak ayal konsumsi air oleh biota perairan bahkan menyebabkan biota perairan infertil. Tak hanya sampai disitu, biodiversitas dalam rantai makanan di dalam ekosistem satu demi satu berguguran. Bagaimana kita membayangkan terkontaminasinya ikan bahkan mati menyebabkan hasil ikan perairan sawah menurun sampai 50%.
Selain itu penggunaan zat kimia untuk hama menjadikan beberapa jenis hama menjadi lebih resisten, ikan menjadi sumber pakan burung blekok dan tikus, selanjutnya burung blekok dan tikus dikonsumsi ular. Dalam waktu yang relatif singkat populasi burung menurun, jumlah populasi ular pun ternyata tak mampu bertahan dengan zat kimia. Kelimpahan populasi tikus menekan jumlah hasil panen, petani merugi!
Revolusi hijau, program yang ternyata tidak cukup siap dengan piranti sosio-ekologis sehingga program ini tak hanya memberikan dampak penurunan kualitas sosial masyarakat tapi juga mengancam ekologi. Sebuah dampak socio-ekologis yang harus dibayar tuntas oleh generasi kini dan esok.
Referensi
Dadjoeni, N. 1998. Geografi Desa dan Kota. Bandung. Alumni, hal 236
Kleinpenning, J.M.G. 1978. Profiel dan de Derde Wereld, Van Gorcum




